Malam sudah mulai melarut. Semakin malam semakin sunyi. Terselip ingatan tentang apa yang telah kulakukan saat lalu. Ah, mengapa penyesalan itu begitu menghimpit dada?

Kadang laku, tak sejalan dengan nurani. Emosi diri telanjur bersimaharajalela dalam hati. Tinggal puing puing penyesalan merayap, meyelusur, menembus palung hati yang paling dalam.

Tuhanku, aku tergugu dalam seduku. Ampuni aku, ya Allah. Alangkah susahnya menahan diri, dan setan telah bertepuk tangan atasku.

Ampuni aku, Tuhan. Beriku kekuatan untuk bangkit dan berdiri lagi. Tegak menentang kerasnya hidup. Tak lagi rapuh menahan bujuk manis yang menyesatkan.

2 komentar:

Dwi Setyaningsih mengatakan...

Salam bunda,

aku suka warna blognya...
dan contentnya juga pasti.

Dian Khristiyanti mengatakan...

Mbak Dwii... haloo, ketemu di sini.
Makasih sudah singgah, ya.. :D
Ini blog dibuatkan teman, kok, hehehe.

Posting Komentar