Bab 2
Aroma Kopi dalam Balutan Hujan

Gerimis sore ini mengundang kabut. Mutiara mengatakannya udan salah mangsa karena hujan itu jatuh ketika Juli belum lagi selesai. Ini masih pertengahan kemarau. Namun, Mutiara selalu senang menikmati hujan, kapan pun hujan itu menjatuhkan dirinya. Apalagi setelah panas seharian, ia akan membaui aroma tanah yang menguap bersama turunnya titik-titik air itu. Aroma khas yang membuat ia selalu merindukan hujan.
Mutiara berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka. Kabut sudah mulai turun seiring dengan gerimis. Aromanya menyentuh penciuman Mutiara. Selain aroma tanah yang menguap, ia memang senang sekali membaui aroma kabut. Selalu saja ada nuansa masa lalu yang kembali menyentuh imajinya dalam kabut itu. Angin yang datang perlahan menyentuh tirai angin berbentuk bintang-bintang menghadirkan dentingan yang terasa sungguh merdu di telinga Mutiara.
Rumah ini begitu sepi. Hanya Mutiara bertiga dengan Mak Yem dan Bu Wiryo di rumah yang cukup besar ini. Mak Yem, pembantu tua yang sudah seperti saudara itu telah bekerja sejak Mutiara belum lahir. Ia mencintai Mutiara seperti anaknya sendiri. Tak hanya karena ia tahu semua sejarah hidup Mutiara sehingga ia sangat sayang kepada  gadis itu, tetapi juga karena perilaku Mutiara yang lembut dan selalu menghormatinya.
Mutiara Namanya

Pagi yang berkabut di lereng gunung Wayang. Gunung Wayang, sebuah gunung yang tak aktif lagi di sudut utara provinsi Jawa Tengah. Di sisi selatan lereng gunung ini terdapat sebuah desa yang merupakan salah satu sentra perkebunan kopi. Desa Sumberwangi namanya. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani sayur dan palawija sedangkan sebagian yang lain bekerja di perkebunan dan pabrik pengolahan kopi terbesar di kota ini.
Pada pagi yang berkabut seperti ini, kebanyakan orang  masih enggan keluar dari rumah. Mereka lebih memilih untuk nongkrong di depan tungku sambil menjerang air dan membakar ubi kayu. Di depan pawon, mereka akan duduk di dingklik, berselimut sarung sambil menunggu air mendidih.
Dulu, ketika aku masih kecil, ia pun sering melakukan hal yang sama, menjerang air dan membakar ubi kayu, ditambah sedikit garam akan terasa gurih. Sayang, sudah lama sekali aku tak menikmatinya. Sejak lulus kuliah dan mengajar di SMP Bakti Bangsa, aku tak punya lagi kesempatan untuk menjerang air pagi hari sambil membakar ketela. Kecuali hari Minggu tentu saja. Namun, ia pun akan melewatkan kebiasaan masa kecilnya itu karena ia lebih suka pergi ke pasar sayur untuk sekadar berbelanja sayur untuk dimasak hari ini sampai tiga hari ke depan.
Setelah matahari agak tinggi, barulah orang-orang itu beranjak dari rumahnya untuk pergi ke sawah atau ladang. Jika mereka bekerja untuk orang lain, tentunya mereka akan berangkat pagi-pagi. Hal ini pula yang kulakukan setiap hari. Berangkat pagi-pagi dari rumah untuk menuju ke tempat kerjaku, di SMP Bakti Bangsa. Meskipun hari dingin dan berkabut, pekerjaan itu tetap kulajalani dengan riang gembira. Dunia anak-anak itu memang duniaku.
Pagi ini, seperti hari-hari biasanya, aku sudah tegak di pintu gerbang sekolah. Hanya sekolah kecil dengan 6 lokal kelas kecil, ditambah satu kantor guru, ruang kepala sekolah yang dihubungkan dengan tuang tata usaha, serta sebuah perpustakaan kecil tempat anak-anak membaca dan mencari sumber referensi. Sekolah itu dulu didirikan oleh almarhum ayah angkatku dan aku merasa berkewajiban untuk melanjutkan apa yang telah dirintis oleh ayah, meskipun tak ada yang bisa diharapkan dari sekolah ini selain pengabdian. Nasib baik kemudian membawaku menjadi PNS pada penerimaan tahun ini, lalu sekaligus menjadi guru negeri yang diperbantukan di sekolah swasta ini. Hal ini semakin mengukuhkan tekadku untuk tetap berbakti di sekolah ini, di desa terpencil di lereng gunung, tempat sebuah perkebunan kopi membentang luas.
Sambil menunggu anak-anak yang berdatangan, Mutiara memandang gunung Wayang yang angkuh berdiri nun jauh di utara. Gunung itu  tengah diselimuti kabut yang cukup tebal. Memang, gunung ini cukup tinggi sehingga kabut seringkali datang menyelimutinya. Mutiara selalu menyukai aroma kabut. Aroma khas yang tak pernah ditemuinya ketika ia bersekolah di kota. Aroma kabut ini pula yang membuatnya selalu merindukan suasana gunung ketika ia tengah berada jauh dari desanya.


Minggu pagi nan cerah di Ceruk.  Ceruk, sebuah tempat datar yang  tak begitu luas di  pegunungan Wayang, tetapi indah. Tempat itu biasa digunakan orang-orang untuk bersantai menikmati pemandangan. Seorang perempuan, berusia 28 tahunan tengah asyik menikmati pagi di sana bersama seorang bocah kecil. Mungkin setahun usianya. Bocah yang belum begitu tegak jalannya itu tengah asyik mengejar bolanya yang berlarian ke sana kemari. Tak ayal, sebentar-sebentar ia jatuh dan si perempuan akan bergegas untuk membantunya berdiri kembali.
“Pagi yang indah ya, Bin…,” kata perempuan itu kepada si bocah.
Bocah kecil yang sedari tadi asyik mengejar bola itu tiba-tiba berhenti dan menguap.



Judul Novel        : (Bukan) Salah Waktu
Pengarang         : Nastity Denny
Penerbit             : Bentang Pustaka
Tahun Terbit      : Desember 2013
Tebal Buku         : 244 halaman

Tak ada yang salah di antara kita, kecuali masa lalu. Itu quote yang tertera pada halaman sampul novel ini. Novel ini saya beli karena gencarnya promosi yang dilakukan melalui jejaring sosial. Pun, novel ini adalah pemenang lomba novel "Wanita dalam Cerita" sehingga saya yakin pasti baguslah.
(Bukan) Salah Waktu menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang bernama Sekar. Sekar, istri Prabu, adalah wanita pekerja yang memutuskan untuk berhenti bekerja. Di saat krisis itu, suaminya mengetahui bahwa selama ini Sekar menyimpan rahasia tentang kehidupan keluarganya yang broken home. Namun, ketika mereka berkonflik tentang masalah ini, masa lalu Prabu pun terkuak. Ternyata, Prabu punya anak dengan bekas kekasihnya yang bernama Laras. Muncul pula nama Bram Aditya, kekasih Miranda sahabat Sekar, juga adik Laras, yang awalnya berniat menghancurkan keluarga Prabu dan Sekar, tetapi akhirnya justru jatuh cinta pada`Sekar.

Judul Novel    : Betang Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Pengarang     : Shabrina Ws
Penerbit        : Elex Media Komputindo
Tahun           : 2013
Tebal            : 175 halaman

Susah sekali untuk percaya bahwa penulis cerita ini belum pernah menginjakkan kaki di bumi Kalimantan ketika melahirkan novel yang begitu indah ini. Novel ini sebetulnya bukan fresh from oven  karena sudah diterbitkan pada akhir tahun 2013 lalu, namun karena saya baru berkesempatan ke Gramedia beberapa hari yang lalu, maka saya pun baru berkesempatan beli dan membacanya. Maklumlah, orang udik, susah ke sana kemari, akses ke toko buku yang besar pun jauh.
Saya sengaja menuliskan resensinya, mengingat setelah membaca novel ini, ceritanya sampai terbawa mimpi (uhuk!). Memang bagus, sih. Bahkan pagi tadi, saya sengaja buka atlas yang saya pinjam dari teman tetangga meja yang kebetulan mengajarkan IPS, sekadar mengecek di mana Sungai Kahayan berada.
Novel ini berkisah tentang kehidupan Danum yang begitu mencintai dayung. Maklumlah, ia kan tinggal di rumah adat Kalimantan yang disebut dengan rumah Betang ini. Nah, di rumah Betang ini, dulu Danum bersahabat dengan Dehen yang bercita-cita mengelilingi dunia dengan mendayung. Benarlah, Dehen menjadi pedayung nasional yang membawa nama Indonesia ke kancah internasional.