Wahyu
Melihatnya lagi di usia mendekati senja, bukanlah kehendakku. Setelah sekian lama bertugas ke Nusa Tenggara Timur untuk melupakan luka hatiku, tiba-tiba saja aku harus pulang karena satu alasan: daerah rawan konflik. Ya, di sana memang sering terjadi pertentangan antaretnis ataupun antaragama. Dan aku diperbolehkan atau mungkin tepatnya dipaksa pulang ke Jawa.
Di Jawa, aku bertugas di sebuah SMP. Entah mengapa, akhirnya aku menjadi orang kepercayaan kepala sekolahku. Akhirnya aku pun disuruh maju sebagai guru berprestasi.Menang. Tahun berikutnya, disuruh maju pula untuk ikut tes calon kepala sekolah. Berhasil pula. Dan di sini, kutemui wajahnya lagi.
Masih cantik, namun ada gurat duka di wajahnya. Hidupnya berat, itu yang aku tahu. Jangan ditanya lagi tentang perasaanku. Dialah satu-satunya perempuan yang pernah mengisi hatiku. Meskipun jantungku sudah cukup tua, namun dia bisa berdenyut lebih kencang jika kutengah melihatnya.