Kerajaan Daha sedang bersedih. Pasalnya sang Putri Candrakirana tiba-tiba menghilang dari kerajaan. Konon, dia ikut terbawa angin topan yang melanda kerajaan itu beberapa hari yang lalu. Mendengar kekasihnya hilang, sang Pangeran Inu Kertapati pun segera mencarinya. Tak hanya di kota, tetapi sang pengeran mencarinya hingga ke desa-desa. Akhirnya, di sebuah desa, berhentilah sang pangeran. Dia menginap di rumah seorang janda tua dan menyamar menjadi anaknya dengan nama Ande-Ande Lumut.
Ande-Ande Lumut yang tampan seketika menjadi buah bibir warga kampung itu, bahkan juga ke desa-desa tetangganya. Para ibu yang punya anak gadis segera saja menyuruh anak-anak gadisnya untuk melamar sang jejaka tampan. Segera saja, rumah Mbok Randha yang menjadi tempat tinggal Ande-Ande Lumut ramai dikunjungi oleh para pelamar. Sayangnya, tak seorang pun yang diterima oleh Ande-Ande Lumut karena ia masih sibuk semedi untuk mencari keberadaan si jantung hati, yang tak lain adalah Candrakirana.
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Di tepian sebuah hutan, tinggallah seorang anak lelaki bersama ibunya. Anak
lelaki ini bernama Cinde Laras dan ibunya bernama Dewi Limaran. Mereka
tinggal berdua di dalam sebuah gubug yang reot, tetapi hidupnya bahagia.
Pada suatu hari, ketika Cinde Laras sedang bermain
di halaman rumahnya, terbanglah seekor burung elang. Burung elang itu
menjatuhkan telur ke dekat kaki Cinde Laras.
“Hai, Cinde Laras, “ seru Elang kepada Cinde Laras.
“Burung Elang, “ seru Cinde Laras takjub, “Engkau bisa bicara?”
“Aku bawakan telur untukmu, Cinde Laras. Rawatlah ia!” seru Elang kapada Cinde Laras.
“Baiklah, Elang. Terima kasih, ya,” sahut Cinde Laras.
Syahdan, di desa Dadapan, tinggallah seorang janda
miskin yang bernama Mbok Randha Dadapan. Mbok Randha ini tidak
mempunyai anak kandung, tetapi ia mempunyai seorang anak angkat. Anak
angkatnya ini berwajah buruk, berkulit hitam, berbadan pendek. Karena
keadaan tubuhnya yang sedemikian, ia pun dipanggil Jaka Kendhil. Kendhil adalah
semacam periuk untuk menanak nasi atau merabus air yang terbuat dari
tanah liat. Jika terlalu sering dipakai, kendhil akan berwarna hitam.
Jika Mbok Randha sedang membantu tetangganya yang
punya hajat, maka Jaka Kendhil diajak serta. Ia selalu duduk diam di
dekat tempat menata makanan. Orang yang ada di situ akan
mengira bahwa dia memang benar-benar kendhil . Maka, pulanglah ia dengan
banyak makanan di atas kepalanya.
Pada suatu hari, Jaka Kendhil meminta kepada ibunya untuk melamarkan gadis.
“Kau ingin mencari istri, Anakku?” tanya Mbok Randha.
“Ya, Mbok.”
Di sebuah desa, tinggallah seorang janda tua. Namanya mbok
Randha Dadapan. Ia hidup seorang diri di rumah kecilnya yang berada di tepi
hutan. Pekerjaan sehari-hari adalah
mencari kayu bakar di hutan, lalu menjualnya ke pasar. Setiap hari ia mencari
kayu bakar di hutan. Keesokan harinya, ia membawanya ke pasar. Begitu terus
yang ia lakukan.
Setiap pergi ke hutan, ia harus melewati sebuah sungai yang cukup
lebar tetapi dangkal. Di sana pula ia membasuh tubuhnya yang lelah setelah
lelah bekerja seharian.
Hari itu, sepulang dari hutan mencari kayu bakar, Mbok Randa
Dadapan singgah ke sungai untuk sekadar membersihkan tubuhnya. Tiba-tiba
dilihatlah sebuah benda berkilau di dalam air. Diambilnya benda itu. Ternyata
sebuah keong. Keong itu berwarna kuning keemasan, tampak berkilauan diterpa
sinar matahari. Mbok Randa pun tertarik untuk membawanya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Mbok Randha
meletakkan keong itu pada tempayan.
Langganan:
Postingan (Atom)
