Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Pada panas pendiangan  yang menyala-nyala
terkabar tentang  bara hati Rama
ketika mengingat kala Sinta  tertawan Rahwana

Pada panas pendiangan yang menyala-nyala
terkabar tentang remuknya hati Sinta
yang redam atas  ragu sang kekasih jiwa

Masuk, masuklah Sinta
jika engkau nyata tak berdosa
tak mungkin ragamu termakan bara.”


Malam membayang di Kurusetra,
rembulan perak di atas randu,
mayat mayat dalam pelukan gangga dan yamuna
hanya tersisa onggokan kereta, pedang, panah,
sisa perang siang tadi.
Sesosok bayang melintas,
dalam pancaran rembulan perak,
indah semampai setara cantik rembulan.


Kepingan mozaik itu terhempas, jatuh, lalu berserak kehilangan makna )
Hidupku ini ibarat layang-layang
Ditarik, diulur, mendekat, menjauh
Terlihat indah dari sana, namun sakit terasa seluruh raga
Lalu datang badai menghempasku
Aku melayang, luruh, lalu lindap
Benangnya putus, tak lurus, tapi mengusut
Aku tak bisa lepas!
Kataku: Lepaskan aku, Tuan!
Lepaskan aku dari jerat asmaramu!

Rinai datang petang ini,
memberikan kecupan basahnya kepada bumi.

Bumi pun menyambutnya dengan mesra,
ia uapkan aroma tanah nan membius dari tubuhnya.

Kau datang
Bersama embun pagi membulat di pucuk daun
Kau datang
Mengoyak hangatnya hening malam
Kau datang
Melesak memenuhi ruang ruang hampa hatiku
Kau datang
Mengundangku untuk menemui Dzat Pengisi Ruang Hampaku
Subuh…
Kutunggu kedatanganmu dalam syahdunya hatiku



Malam sudah mulai melarut. Semakin malam semakin sunyi. Terselip ingatan tentang apa yang telah kulakukan saat lalu. Ah, mengapa penyesalan itu begitu menghimpit dada?

Kadang laku, tak sejalan dengan nurani. Emosi diri telanjur bersimaharajalela dalam hati. Tinggal puing puing penyesalan merayap, meyelusur, menembus palung hati yang paling dalam.

Tuhanku, aku tergugu dalam seduku. Ampuni aku, ya Allah. Alangkah susahnya menahan diri, dan setan telah bertepuk tangan atasku.

Ampuni aku, Tuhan. Beriku kekuatan untuk bangkit dan berdiri lagi. Tegak menentang kerasnya hidup. Tak lagi rapuh menahan bujuk manis yang menyesatkan.

Seandainya,
ada sedikit saja pedulimu tentangku
tolong kabari aku di mana  kini hatimu

Seandainya,
ada sedikit saja rasamu padaku
tolong kabari aku tentang rasamu itu

Kita ini kepingan puzzle
yang berserak tanpa makna
jika tak disusun bersama
***
Kita ini kepingan puzzle
Meskipun berbeda namun tetap indah
jika kita tersusun bersama


Jika kata telah kehilangan makna
tak ada lagi yang kubisa
kecuali hanya
diam
membisu
dan beku
1302193232480743344

Deretan cemara,
udara sejuk,
alunan musik sunda,
suara alam
(ada gadis menari di ujung sana)
*
Kabut redup perlahan menggelayut
Dingin menelusup tubuh
(gadis  tepekur di sudut senja)
*
Kucium aroma asmara di sana
asmara penuh makna tiada tara
untaian puisi terukir mendesah jiwa
Adakah ia untukku?
Hanya asa
13056487981270420000



Kulitmu memang tak  sehalus sutera
Keriput tlah menyapamu di mana-mana
Gurat lelah di wajahmu tak dapat lagi engkau sembunyikan

Tubuhmu memang tak lagi tegak berdiri
Beratnya hidup  t’lah kenyang engkau lewati
Hidupmu penat membuatmu tak  kuasa lagi berdiri tegak menentang hari