Minggu pagi nan cerah di Ceruk.  Ceruk, sebuah tempat datar yang  tak begitu luas di  pegunungan Wayang, tetapi indah. Tempat itu biasa digunakan orang-orang untuk bersantai menikmati pemandangan. Seorang perempuan, berusia 28 tahunan tengah asyik menikmati pagi di sana bersama seorang bocah kecil. Mungkin setahun usianya. Bocah yang belum begitu tegak jalannya itu tengah asyik mengejar bolanya yang berlarian ke sana kemari. Tak ayal, sebentar-sebentar ia jatuh dan si perempuan akan bergegas untuk membantunya berdiri kembali.
“Pagi yang indah ya, Bin…,” kata perempuan itu kepada si bocah.
Bocah kecil yang sedari tadi asyik mengejar bola itu tiba-tiba berhenti dan menguap.



Judul Novel        : (Bukan) Salah Waktu
Pengarang         : Nastity Denny
Penerbit             : Bentang Pustaka
Tahun Terbit      : Desember 2013
Tebal Buku         : 244 halaman

Tak ada yang salah di antara kita, kecuali masa lalu. Itu quote yang tertera pada halaman sampul novel ini. Novel ini saya beli karena gencarnya promosi yang dilakukan melalui jejaring sosial. Pun, novel ini adalah pemenang lomba novel "Wanita dalam Cerita" sehingga saya yakin pasti baguslah.
(Bukan) Salah Waktu menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang bernama Sekar. Sekar, istri Prabu, adalah wanita pekerja yang memutuskan untuk berhenti bekerja. Di saat krisis itu, suaminya mengetahui bahwa selama ini Sekar menyimpan rahasia tentang kehidupan keluarganya yang broken home. Namun, ketika mereka berkonflik tentang masalah ini, masa lalu Prabu pun terkuak. Ternyata, Prabu punya anak dengan bekas kekasihnya yang bernama Laras. Muncul pula nama Bram Aditya, kekasih Miranda sahabat Sekar, juga adik Laras, yang awalnya berniat menghancurkan keluarga Prabu dan Sekar, tetapi akhirnya justru jatuh cinta pada`Sekar.

Judul Novel    : Betang Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Pengarang     : Shabrina Ws
Penerbit        : Elex Media Komputindo
Tahun           : 2013
Tebal            : 175 halaman

Susah sekali untuk percaya bahwa penulis cerita ini belum pernah menginjakkan kaki di bumi Kalimantan ketika melahirkan novel yang begitu indah ini. Novel ini sebetulnya bukan fresh from oven  karena sudah diterbitkan pada akhir tahun 2013 lalu, namun karena saya baru berkesempatan ke Gramedia beberapa hari yang lalu, maka saya pun baru berkesempatan beli dan membacanya. Maklumlah, orang udik, susah ke sana kemari, akses ke toko buku yang besar pun jauh.
Saya sengaja menuliskan resensinya, mengingat setelah membaca novel ini, ceritanya sampai terbawa mimpi (uhuk!). Memang bagus, sih. Bahkan pagi tadi, saya sengaja buka atlas yang saya pinjam dari teman tetangga meja yang kebetulan mengajarkan IPS, sekadar mengecek di mana Sungai Kahayan berada.
Novel ini berkisah tentang kehidupan Danum yang begitu mencintai dayung. Maklumlah, ia kan tinggal di rumah adat Kalimantan yang disebut dengan rumah Betang ini. Nah, di rumah Betang ini, dulu Danum bersahabat dengan Dehen yang bercita-cita mengelilingi dunia dengan mendayung. Benarlah, Dehen menjadi pedayung nasional yang membawa nama Indonesia ke kancah internasional.
Banner Lomba

24 Februari 2014.
Dua puluh empat hari yang lalu, saya baru saja menyelesaikan  -tepatnya menghentikan- proyek novel kedua saya sebagai partisipasi aktif dalam event J50K tahun 2014. Lumayan, 47 ribuan kata sudah saya hasilkan dalam waktu satu bulan penuh. Proyek yang sangat ambisius dan fantastis menurut saya, karena dalam waktu sebulan penuh kita dituntut untuk konsisten menulis. Ini event yang  luar biasa keren, yang dapat menggugah semangat saya untuk terus menulis.
3940+3996+3942+3086+1226+5690+1878+15904+2320+528+5286 = 47796.
Angka itu yang tertera pada layar HP  yang baru saja saya gunakan untuk menghitung jumlah kata yang sudah saya tulis di bulan Januari dalam rangka nulis bareng J50K. Saya sendiri kaget karena kemarin ketika update terakhir sebelum laptop saya hang, saya berada di kisaran 45 ribu lebih sedikit. Memang, ketika itu setelah menghitung, saya menulis lagi dan tiba-tiba laptop saya meninggal eh mati begitu saja. Ya sudah, akhirnya saya menyerah kalah karena setelah maghrib laptop tak dapat kembali menyala. Hari ini, ketika si laptop tiba-tiba bisa hidup lagi (maklum laptop tua, dibuat kerja agak lama sedikit langsung error, untuk mengantisipasinya saya menyimpan hasil ketikan saya di flashdisk), saya coba hitung ulang ternyata sudah sampai di 47 K. Wow, sebuah pencapaian yang luar biasa meskipun tak sampai finish 50 K.