Banner Lomba

24 Februari 2014.
Dua puluh empat hari yang lalu, saya baru saja menyelesaikan  -tepatnya menghentikan- proyek novel kedua saya sebagai partisipasi aktif dalam event J50K tahun 2014. Lumayan, 47 ribuan kata sudah saya hasilkan dalam waktu satu bulan penuh. Proyek yang sangat ambisius dan fantastis menurut saya, karena dalam waktu sebulan penuh kita dituntut untuk konsisten menulis. Ini event yang  luar biasa keren, yang dapat menggugah semangat saya untuk terus menulis.
3940+3996+3942+3086+1226+5690+1878+15904+2320+528+5286 = 47796.
Angka itu yang tertera pada layar HP  yang baru saja saya gunakan untuk menghitung jumlah kata yang sudah saya tulis di bulan Januari dalam rangka nulis bareng J50K. Saya sendiri kaget karena kemarin ketika update terakhir sebelum laptop saya hang, saya berada di kisaran 45 ribu lebih sedikit. Memang, ketika itu setelah menghitung, saya menulis lagi dan tiba-tiba laptop saya meninggal eh mati begitu saja. Ya sudah, akhirnya saya menyerah kalah karena setelah maghrib laptop tak dapat kembali menyala. Hari ini, ketika si laptop tiba-tiba bisa hidup lagi (maklum laptop tua, dibuat kerja agak lama sedikit langsung error, untuk mengantisipasinya saya menyimpan hasil ketikan saya di flashdisk), saya coba hitung ulang ternyata sudah sampai di 47 K. Wow, sebuah pencapaian yang luar biasa meskipun tak sampai finish 50 K.

Ikut proyek nulis Januari 50K tahun 2014 di Kampung Fiksi sebenarnya merupakan hal yang cukup nekad bagi saya karena bulan Januari merupakan bulan yang sangat sibuk terkait tugas saya sebagai ketua MGMP. Pada bulan ini nanti akan ada penulisan soal try out UN untuk kabupaten, peluncuran antologi puisi guru, dan tentunya rapat pleno yang menguras energi karena mesti membuat program pembelajaran bagi MGMP. Tak hanya itu, Januari juga bulan yang sangat sibuk karena kegiatan sekolah penuh dengan les dan latihan ujian.



Siapa sih, yang tak mau anaknya menjadi anak yang disiplin dan bertanggung jawab? Siapa pula yang tak mau anaknya menjadi pribadi yang jujur dan dapat dipercaya? Saya yakin, semua orang tua pasti ingin memiliki anak yang berkarakter terpuji ini. Anak berkarakter adalah anak dambaan orang tua, yang nantinya diharapkan dapat menjadi pioner dalam memajukan bangsa ini.
Namun, menjadikan anak sebagai pribadi berkarakter bukanlah hal yang mudah, bukan pula hal yang instant. Tak ada istilah sim salabim dalam dunia pendidikan. Dan, sekolah pertama bagi anak untuk membentuk karakternya adalah keluarga, di mana ibu dan ayah memiliki peranan yang sama pentingnya.


Pada panas pendiangan  yang menyala-nyala
terkabar tentang  bara hati Rama
ketika mengingat kala Sinta  tertawan Rahwana

Pada panas pendiangan yang menyala-nyala
terkabar tentang remuknya hati Sinta
yang redam atas  ragu sang kekasih jiwa

Masuk, masuklah Sinta
jika engkau nyata tak berdosa
tak mungkin ragamu termakan bara.”