Ikut proyek nulis Januari 50K tahun 2014 di Kampung Fiksi sebenarnya merupakan hal yang cukup nekad bagi saya karena bulan Januari merupakan bulan yang sangat sibuk terkait tugas saya sebagai ketua MGMP. Pada bulan ini nanti akan ada penulisan soal try out UN untuk kabupaten, peluncuran antologi puisi guru, dan tentunya rapat pleno yang menguras energi karena mesti membuat program pembelajaran bagi MGMP. Tak hanya itu, Januari juga bulan yang sangat sibuk karena kegiatan sekolah penuh dengan les dan latihan ujian.



Siapa sih, yang tak mau anaknya menjadi anak yang disiplin dan bertanggung jawab? Siapa pula yang tak mau anaknya menjadi pribadi yang jujur dan dapat dipercaya? Saya yakin, semua orang tua pasti ingin memiliki anak yang berkarakter terpuji ini. Anak berkarakter adalah anak dambaan orang tua, yang nantinya diharapkan dapat menjadi pioner dalam memajukan bangsa ini.
Namun, menjadikan anak sebagai pribadi berkarakter bukanlah hal yang mudah, bukan pula hal yang instant. Tak ada istilah sim salabim dalam dunia pendidikan. Dan, sekolah pertama bagi anak untuk membentuk karakternya adalah keluarga, di mana ibu dan ayah memiliki peranan yang sama pentingnya.


Pada panas pendiangan  yang menyala-nyala
terkabar tentang  bara hati Rama
ketika mengingat kala Sinta  tertawan Rahwana

Pada panas pendiangan yang menyala-nyala
terkabar tentang remuknya hati Sinta
yang redam atas  ragu sang kekasih jiwa

Masuk, masuklah Sinta
jika engkau nyata tak berdosa
tak mungkin ragamu termakan bara.”

Kerajaan Daha sedang bersedih. Pasalnya sang Putri  Candrakirana tiba-tiba menghilang dari kerajaan. Konon, dia ikut terbawa angin topan yang melanda kerajaan itu beberapa hari yang lalu. Mendengar kekasihnya hilang, sang Pangeran Inu Kertapati pun segera mencarinya. Tak hanya di kota, tetapi sang pengeran mencarinya hingga ke desa-desa. Akhirnya, di sebuah desa, berhentilah sang pangeran. Dia menginap di rumah seorang janda tua dan menyamar menjadi anaknya dengan nama Ande-Ande Lumut.

Ande-Ande Lumut yang tampan seketika menjadi buah bibir warga kampung itu, bahkan juga ke desa-desa tetangganya. Para ibu yang punya anak gadis segera saja menyuruh anak-anak gadisnya untuk melamar sang jejaka tampan. Segera saja, rumah Mbok Randha yang menjadi tempat tinggal Ande-Ande Lumut ramai dikunjungi oleh para pelamar. Sayangnya, tak seorang pun yang diterima oleh Ande-Ande Lumut karena ia masih sibuk semedi untuk mencari keberadaan si jantung hati, yang tak lain adalah Candrakirana.


Parmin masih bersimpuh di tepian makam. Matanya membasah. Hari ini lebaran hari pertama dan Parmin masih di ibukota. Ia justru sedang berada di dekat sebuah kuburan baru di pinggiran kampung. Kuburan itu masih basah, tanahnya masih menggunduk, terdapat sedikit taburan bunga di sana, menunjukkan kalau kuburan itu memang benar-benar baru. Seseorang baru saja dikuburkan di situ. Seseorang yang dekat dengan Parmin, kawannya bekerja di bangunan ini. Ya, Bang Jono yang meninggal. Ia meninggal malam tadi setelah sore harinya tertabrak mobil yang melaju kencang. Nyawanya tak tertolong lagi setelah dibawa ke rumah sakit.

Parmin masih ingat benar apa yang ia bicarakan dengan Bang Jono kemarin malam, ketika sahur terakhir. Ketika itu barak sudah sepi karena sebagian besar kawan mereka mudik ke kampungnya masing-masing. Tinggal Parmin dan Bang Jono yang ada di sana, serta 2 orang sekuriti yang bertugas di luar.