3940+3996+3942+3086+1226+5690+1878+15904+2320+528+5286 = 47796.
Angka itu yang tertera pada layar HP  yang baru saja saya gunakan untuk menghitung jumlah kata yang sudah saya tulis di bulan Januari dalam rangka nulis bareng J50K. Saya sendiri kaget karena kemarin ketika update terakhir sebelum laptop saya hang, saya berada di kisaran 45 ribu lebih sedikit. Memang, ketika itu setelah menghitung, saya menulis lagi dan tiba-tiba laptop saya meninggal eh mati begitu saja. Ya sudah, akhirnya saya menyerah kalah karena setelah maghrib laptop tak dapat kembali menyala. Hari ini, ketika si laptop tiba-tiba bisa hidup lagi (maklum laptop tua, dibuat kerja agak lama sedikit langsung error, untuk mengantisipasinya saya menyimpan hasil ketikan saya di flashdisk), saya coba hitung ulang ternyata sudah sampai di 47 K. Wow, sebuah pencapaian yang luar biasa meskipun tak sampai finish 50 K.

Ikut proyek nulis Januari 50K tahun 2014 di Kampung Fiksi sebenarnya merupakan hal yang cukup nekad bagi saya karena bulan Januari merupakan bulan yang sangat sibuk terkait tugas saya sebagai ketua MGMP. Pada bulan ini nanti akan ada penulisan soal try out UN untuk kabupaten, peluncuran antologi puisi guru, dan tentunya rapat pleno yang menguras energi karena mesti membuat program pembelajaran bagi MGMP. Tak hanya itu, Januari juga bulan yang sangat sibuk karena kegiatan sekolah penuh dengan les dan latihan ujian.



Siapa sih, yang tak mau anaknya menjadi anak yang disiplin dan bertanggung jawab? Siapa pula yang tak mau anaknya menjadi pribadi yang jujur dan dapat dipercaya? Saya yakin, semua orang tua pasti ingin memiliki anak yang berkarakter terpuji ini. Anak berkarakter adalah anak dambaan orang tua, yang nantinya diharapkan dapat menjadi pioner dalam memajukan bangsa ini.
Namun, menjadikan anak sebagai pribadi berkarakter bukanlah hal yang mudah, bukan pula hal yang instant. Tak ada istilah sim salabim dalam dunia pendidikan. Dan, sekolah pertama bagi anak untuk membentuk karakternya adalah keluarga, di mana ibu dan ayah memiliki peranan yang sama pentingnya.


Pada panas pendiangan  yang menyala-nyala
terkabar tentang  bara hati Rama
ketika mengingat kala Sinta  tertawan Rahwana

Pada panas pendiangan yang menyala-nyala
terkabar tentang remuknya hati Sinta
yang redam atas  ragu sang kekasih jiwa

Masuk, masuklah Sinta
jika engkau nyata tak berdosa
tak mungkin ragamu termakan bara.”

Kerajaan Daha sedang bersedih. Pasalnya sang Putri  Candrakirana tiba-tiba menghilang dari kerajaan. Konon, dia ikut terbawa angin topan yang melanda kerajaan itu beberapa hari yang lalu. Mendengar kekasihnya hilang, sang Pangeran Inu Kertapati pun segera mencarinya. Tak hanya di kota, tetapi sang pengeran mencarinya hingga ke desa-desa. Akhirnya, di sebuah desa, berhentilah sang pangeran. Dia menginap di rumah seorang janda tua dan menyamar menjadi anaknya dengan nama Ande-Ande Lumut.

Ande-Ande Lumut yang tampan seketika menjadi buah bibir warga kampung itu, bahkan juga ke desa-desa tetangganya. Para ibu yang punya anak gadis segera saja menyuruh anak-anak gadisnya untuk melamar sang jejaka tampan. Segera saja, rumah Mbok Randha yang menjadi tempat tinggal Ande-Ande Lumut ramai dikunjungi oleh para pelamar. Sayangnya, tak seorang pun yang diterima oleh Ande-Ande Lumut karena ia masih sibuk semedi untuk mencari keberadaan si jantung hati, yang tak lain adalah Candrakirana.