Untukmu, Wahai Penitip Sejengkal Hati
Apa kabar hatimu kini? Setelah sekian lama tak bersua dalam gerimis hujan yang menebarkan aroma kabut. Setelah sekian lama tak bertemu dalam hangatnya secangkir cappucino dan sepotong muffin.
Apa kabarmu, wahai Sang Penitip Sejengkal Hati?
Masihkah ada sebagian hatimu yang engkau simpan untukku, meskipun itu tersembunyi di palung hatimu yang paling dalam? Ingatkah engkau akan kata-katamu ketika itu? Ketika kaukatakan ingin menitipkan sedikit saja hati sebagai sekeping mozaik untuk bisa melengkapi hari-hariku. Aku terima itu kala itu. Kujaga sejengkal hatimu dengan sepenuh jiwaku. Kusimpan rapat di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Aku menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang biar senantiasa tumbuh mekar di dalam hatiku.
Masihkah ada sebagian hatimu yang engkau simpan untukku, meskipun itu tersembunyi di palung hatimu yang paling dalam? Ingatkah engkau akan kata-katamu ketika itu? Ketika kaukatakan ingin menitipkan sedikit saja hati sebagai sekeping mozaik untuk bisa melengkapi hari-hariku. Aku terima itu kala itu. Kujaga sejengkal hatimu dengan sepenuh jiwaku. Kusimpan rapat di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Aku menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang biar senantiasa tumbuh mekar di dalam hatiku.