Syahdan, di desa Dadapan, tinggallah seorang janda
miskin yang bernama Mbok Randha Dadapan. Mbok Randha ini tidak
mempunyai anak kandung, tetapi ia mempunyai seorang anak angkat. Anak
angkatnya ini berwajah buruk, berkulit hitam, berbadan pendek. Karena
keadaan tubuhnya yang sedemikian, ia pun dipanggil Jaka Kendhil. Kendhil adalah
semacam periuk untuk menanak nasi atau merabus air yang terbuat dari
tanah liat. Jika terlalu sering dipakai, kendhil akan berwarna hitam.
Jika Mbok Randha sedang membantu tetangganya yang
punya hajat, maka Jaka Kendhil diajak serta. Ia selalu duduk diam di
dekat tempat menata makanan. Orang yang ada di situ akan
mengira bahwa dia memang benar-benar kendhil . Maka, pulanglah ia dengan
banyak makanan di atas kepalanya.
Pada suatu hari, Jaka Kendhil meminta kepada ibunya untuk melamarkan gadis.
“Kau ingin mencari istri, Anakku?” tanya Mbok Randha.
“Ya, Mbok.”