“Selamat pagi, Cantik!”
(Betapa kata itu selalu menggema dalam lorong waktu relung hatiku. Menemaniku mencapaimu dalam bayang-bayang semu.)
***
Surat undangan berwarna merah hati itu bertuliskan
namanya. Tertulis dengan tinta emas. Ada puisinya, tentang cinta, di
sana. Indah sekali. Puisi cintanya untuk seseorang yang begitu ia
cintai.
Aku masih merebahkan diri di tempat tidur bersama
selimut tebal nan hangat. Masih pagi, pikirku. Azan subuh belum lagi
menggema. Inginku kembali tidur, tetapi undangan merah hati yang
terletak di atas meja samping ranjangku itu membuat pikiranku melayang
pada masa-masa lalu, masa tentangku dan tentangnya, si penulis puisi
dalam undangan itu.