“Selamat pagi, Cantik!”
(Betapa kata itu selalu menggema dalam lorong waktu relung hatiku. Menemaniku mencapaimu dalam bayang-bayang semu.)
***
Surat undangan berwarna merah hati itu bertuliskan namanya. Tertulis dengan tinta emas. Ada puisinya, tentang cinta, di sana. Indah sekali. Puisi cintanya untuk seseorang yang begitu ia cintai.

Aku masih merebahkan diri di tempat tidur bersama selimut tebal nan hangat. Masih pagi, pikirku. Azan subuh belum lagi menggema. Inginku kembali tidur, tetapi undangan merah hati yang terletak di atas meja samping ranjangku  itu membuat pikiranku melayang pada masa-masa lalu, masa tentangku dan  tentangnya, si penulis puisi dalam undangan itu.



13075072491771131066 
Wajahnya cantik. Kulitnya seterang purnama bulan. Banyak orang bilang, dia mirip Helmalia Putri yang pernah ngetop beberapa tahun yang lalu. Namun, kemiripan wajah tak menjamin kesamaan nasib, bukan? Sama-sama berwajah rupawan, tetapi nasib bagai keping mata uang yang bertolak belakang.
Satu hidup di metropolitan, yang lainnya hidup di sebuah desa terpencil di pegunungan. Yang satu seorang bintang film, yang satunya lagi hanya seorang pembantu di rumah seorang guru. Berbeda jauh, bukan? Ibarat bumi dengan langit, seperti rembulan dengan matahari, bagai ufuk timur dengan barat.

Cantik wajahnya, namun belum tentu seindah takdirnya. Tini, namanya. Lahir di tengah kemiskinan keluarganya sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara. Bapak dan emaknya hanya buruh tani biasa. Tak cukup penghasilan mereka untuk memenuhi makan anak-anaknya, apalagi sampai menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi selain SD. 

Pada usia 13 tahun, selulus dari SD, Tini terpaksa tak melanjutkan sekolah. Oleh gurunya semasa SD, dia diambil sebagai anak angkat sekaligus sebagai tukang momong. Namun, ia tak mau disekolahkan. Bisa ikut momong di rumah Pak Gurunya saja ia sudah senang. Ini berarti beban orang tuanya sedikit berkurang. Ia pun bisa memberikan sedikit uang kepada orang tuanya untuk biaya adik-adiknya. 

(Bunga rumput liar tumbuh dibalik semak-semak, kemuning warna kelopaknya. Sehelai daun kering jatuh, menutup mekarnya dengan kelabu bayang-bayang.)

“Hilang, Zid?”
Anak laki-laki sepuluh tahun itu mengangguk. Kepalanya menunduk, bibirnya mengatup. Emak pasti marah, pikirnya.
Senah menatap anaknya setengah tak percaya. Namun, melihat ekspresi anaknya, lemaslah ia. Yazid tak berbohong. Anaknya memang tak pernah berbohong. Kartu itu memang hilang. Kartu yang digunakan untuk mengambil jatah daging itu tadi pagi diterima Yazid seusai shalat ied. Yazid mengantonginya di saku celana. Anak itu lupa, bahwa kantong celananya bolong dan kartu itu jatuh entah di mana.
Ketika diam menjadi pilihan, maka tak ada lagi yang bisa kupilih selain diam.
“Bicaralah,” kata lelaki itu. Aku menggeleng.
“Cukuplah aku dengan diamku. Bumi tak akan berhenti berputar jika aku diam, bukan?”
“Bicaralah, sekata saja. “
 Aku menggeleng. “Tak akan kukata apa yang kurasa.”
“Aku akan merasa kehilangan.”
“Dan aku akan merasa tersanjung.”
“Selepas subuh nanti aku akan pergi.”
“Pergilah.”
“Kau tak merasa kehilangan?”
“Jika aku merasa kehilangan haruskah kukatakan?”
“Tentu, ini akan menguatkanku di tempat baru nanti.”
“Tidak. Tak akan kukatakan apa yang kurasa. Pergilah.”
“Sri…”
“Pergilah, Kang. Jangan lupa pamit istrimu.”
“Aku cinta kamu,” bisikku dalam hati.
Suatu malam di sudut kamar, berkumpullah Mata, Telinga, Hidung, Mulut, dan semua jenis organ yang ada dalam tubuh manusia. Mereka sedang melakukan konsolidasi serius karena masalah yang memberati mereka berhari-hari. Raga mereka tampak kuyu.

Mata yang biasanya bersinar, sayu kehilangan kerlipnya. Telinga yang bisanya tegak, mendadak tunduk tanpa daya. Kulit yang biasanya segar, putih, kencang, mendadak kisut  dua puluh tahun lebih tua nampaknya.
“Ah, semua ini ulah si Hati,” seru Mata tak sabar.