“Hilang, Zid?”
Anak laki-laki sepuluh tahun itu mengangguk. Kepalanya menunduk, bibirnya mengatup. Emak pasti marah, pikirnya.
Senah menatap anaknya setengah tak percaya. Namun,
melihat ekspresi anaknya, lemaslah ia. Yazid tak berbohong. Anaknya
memang tak pernah berbohong. Kartu itu memang hilang. Kartu yang
digunakan untuk mengambil jatah daging itu tadi pagi diterima Yazid
seusai shalat ied. Yazid mengantonginya di saku celana. Anak itu lupa,
bahwa kantong celananya bolong dan kartu itu jatuh entah di mana.