Suatu malam di sudut kamar, berkumpullah Mata, Telinga, Hidung, Mulut, dan semua jenis organ yang ada dalam tubuh manusia. Mereka sedang melakukan konsolidasi serius karena masalah yang memberati mereka berhari-hari. Raga mereka tampak kuyu.

Mata yang biasanya bersinar, sayu kehilangan kerlipnya. Telinga yang bisanya tegak, mendadak tunduk tanpa daya. Kulit yang biasanya segar, putih, kencang, mendadak kisut  dua puluh tahun lebih tua nampaknya.
“Ah, semua ini ulah si Hati,” seru Mata tak sabar.

Berulang kali kulihat lelaki itu. Lelaki bermuka buruk berwajah seram. Setiap kali aku berdiri di balik jendela dapur rumahku, kulihat ia tengah berdiri di seberang jalan dengan senyuman menyeringai. Matanya tajam, takut sekali aku dibuatnya.

Dia bukan tetanggaku. Aku tak pernah melihatnya selama ini. Kalau tetangga, pasti sekali dua aku pernah bersimpangan jalan dengannya. Tapi, siapa dia? Bajunya hitam, senyumannya menyeringai. Matanya yang tajam berwarna merah saga.

Aku pernah membaca di sebuah buku, katanya orang yang akan meninggal dunia akan didatangi oleh orang asing. Orang asing ini katanya merupakan jelmaan dari malaikat maut. Dia akan tampak sebagai laki-laki tampan jika yang meninggal orang saleh dan dia akan muncul sebagai laki-laki menyeramkan jika yang akan meninggal adalah orang yang banyak dosa.


“Jam berapa, Mbah?” tanyaku kepada Mbah Darmi yang masih duduk setengah tertidur di sampingku.
“Masih jam setengah empat, Le,” kata Mbah kepadaku. “Masih malam, tidurlah lagi.”
“Aku baru saja bermimpi tentang Ibu, Mbah.” Kulihat Mbah Darmi mengerutkan kening. Matanya yang tadi mengantuk mendadak melebar.
“Mimpi apa to Le… Sudah tidur lagi sana. Biar kamu cepat sehat.”
“Nggak bisa, Mbah, perih sekali rasanya mulutku.”

Sudah lima hari ini untuk kesekian kalinya aku dirawat di rumah sakit karena sariawan yang meradang tak kunjung sembuh. Entahlah, sejak kecil memang aku sakit-sakitan sehingga tak dapat bermain seperti teman-teman sebayaku. Kalaupun dapat, biasanya mereka pun akan menjauhiku. Alasannya, karena dilarang oleh orang tua mereka. Orang tua mereka memang tak mengatakan apa-apa padaku. Tapi pandangan mereka aneh terhadapku. Mungkin jijik, takut, atau kasihan, aku tak mengerti. Aneh saja, berbeda dengan tatapan Mbah Darmi padaku yang bisa menyejukkan hatiku ketika hatiku sakit karena ditolak bermain dengan teman sebayaku.

Semangat sekali Kemala sore ini. Bagaimana tidak? Hari ini ia punya kesempatan, tepatnya alasan untuk singgah di rumah Pak Yasin, atasannya.

Pak Yasin yang ganteng. Pak Yasin yang menurut cerita penuh perhatian terhadap keluarga. Ia tak pernah mau pulang terlambat karena tak mau anaknya telantar. Ia mau membantu pekerjaan rumah istrinya karena mereka sama-sama pekerja. Memasak dan mengepel bukan hal yang tabu baginya. Begitu selalu cerita Pak Yasin kepada Kemala.

"Masih menunggunya?"
Aku mengangguk.
"Mengapa tak kaubalas saja pesan-pesannya?"
"Aku menunggunya mengirimkan pesannya yang kesepuluh."
"Sekarang pesan  keberapa yang engkau terima?"
"Kesembilan. Kurang satu lagi."